Permasalahan gizi buruk di dunia memang menjadi isu yang sangat serius. Sebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari kurangnya akses terhadap makanan bergizi, kemiskinan, konflik bersenjata, hingga kurangnya pengetahuan tentang pentingnya gizi yang seimbang. Dampaknya pun sangat besar, tidak hanya terhadap kesehatan individu, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial suatu negara.
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 821 juta orang di dunia menderita kelaparan kronis. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan gizi buruk masih menjadi masalah yang belum terselesaikan dengan baik. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, menyatakan, “Gizi buruk bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah hak asasi manusia. Setiap orang berhak mendapatkan makanan yang bergizi agar bisa hidup sehat dan produktif.”
Salah satu faktor penyebab utama dari permasalahan gizi buruk adalah kemiskinan. Menurut Prof. Jeffrey Sachs, ekonom terkemuka dari Columbia University, “Kemiskinan adalah akar dari banyak masalah sosial, termasuk gizi buruk. Tanpa adanya akses terhadap pendapatan yang cukup, banyak orang akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizinya.”
Konflik bersenjata juga turut berperan dalam memperburuk kondisi gizi di beberapa negara. Dr. David Beasley, Eksekutif Direktur Program Pangan Dunia PBB, mengatakan, “Di negara-negara yang dilanda konflik, seringkali akses terhadap makanan bergizi menjadi terhambat. Hal ini menyebabkan meningkatnya angka gizi buruk di kalangan anak-anak dan ibu hamil.”
Untuk mengatasi permasalahan gizi buruk di dunia, diperlukan kerjasama antara pemerintah, lembaga internasional, dan masyarakat sipil. Pendekatan yang holistik dan berkelanjutan perlu diterapkan untuk memastikan bahwa setiap individu mendapatkan akses terhadap makanan yang bergizi. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan visi WHO untuk “hidup sehat bagi semua, di mana pun.”
Sekian artikel tentang permasalahan gizi buruk di dunia. Semoga dapat menjadi penyadaran bagi kita semua untuk peduli dan berkontribusi dalam upaya penanggulangan masalah ini. Terima kasih.
